FEHBi Bersama FIKOMDIGI Unimus Bahas Rencana Tindak Lanjut Kerja Sama Internasional dengan INTI International University Malaysia

Semarang, 24 Agustus 2026 — Fakultas Ekonomi, Hukum, dan Bisnis (FEHBi) bersama Fakultas Ilmu Komunikasi dan Digital (FIKOMDIGI) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) melaksanakan Rencana Tindak Lanjut (RTL) kerja sama internasional dengan INTI International University, Malaysia melalui Zoom Meeting pada Senin (24/8/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor IV Unimus, pimpinan dan dosen FEHBi, serta pimpinan dan dosen FIKOMDIGI Unimus. Dari INTI International University, Malaysia, hadir Prof. Dr. Deshinta Arrova Dewi, Ph.D. sebagai perwakilan dalam pembahasan tindak lanjut kerja sama. Pertemuan tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat implementasi kerja sama internasional yang telah dibangun antara Unimus dan INTI International University. Pembahasan diarahkan pada sejumlah program prioritas yang dapat memberikan dampak nyata bagi pengembangan akademik, sumber daya manusia, penelitian, dan internasionalisasi program studi. Salah satu fokus utama kerja sama adalah student mobility, yang diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman akademik dan internasional melalui kegiatan pertukaran, pembelajaran bersama, maupun program akademik lainnya. Selain itu, kerja sama juga diarahkan pada penguatan kolaborasi dosen, termasuk pengembangan jejaring akademik, pertukaran pengetahuan, serta peluang keterlibatan dosen dalam berbagai kegiatan akademik internasional. Kerja sama pada tingkat program studi (prodi) juga menjadi perhatian untuk mendorong pengembangan kurikulum, kegiatan akademik bersama, serta berbagai program internasional yang relevan. Dalam bidang penelitian, kedua institusi membahas peluang Penelitian Kolaborasi Luar Negeri (PKLN) serta program research fellow. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas penelitian dosen sekaligus memperluas jejaring riset internasional Unimus. Pembahasan juga mencakup upaya meningkatkan kualitas dan visibilitas publikasi ilmiah. Salah satu rencana tindak lanjut yang disepakati adalah sharing paper atau artikel ilmiah kepada pengelola jurnal masing-masing institusi. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan kualitas publikasi dan mendukung proses penguatan jurnal menuju indeksasi Scopus. Melalui RTL ini, FEHBi Unimus berkomitmen untuk terus memperluas jejaring kerja sama internasional yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diwujudkan dalam program konkret dan berkelanjutan. Kerja sama dengan INTI International University diharapkan menjadi bagian penting dalam mendukung akselerasi internasionalisasi Unimus, meningkatkan kualitas akademik dan penelitian, serta memperkuat posisi FEHBi Unimus menuju fakultas dan program studi yang berdaya saing global.
Mahasiswa Unimus Berselancar di Negeri Formosa Taiwan: Menembus Batas, Menjemput Pengalaman Global

Taiwan— Enam mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menorehkan pengalaman berharga melalui program KKN Internasional di Taiwan. Mereka adalah Azkya Qorsya Salwa Rambing dan Alilatulbariza dari Manajemen, Nyssa Flavia Arityas dan Asmi Nurlaila dari Informatika, Sarah Mahfuzhillah Rahmadewi dari Kesehatan Masyarakat, serta Nia Kurniawati dari Keperawatan. Mengusung semangat menembus batas dan menjemput pengalaman global, para mahasiswa berinteraksi bersama delegasi dari berbagai perguruan tinggi, antara lain Nagoya City University, Tokyo Metropolitan University, Kobe City College of Nursing, Yamagata Prefectural University, VinUniversity, dan Jeonbuk National University. Rektor Unimus, Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., berpesan agar mahasiswa tampil percaya diri dan menunjukkan jati diri sebagai mahasiswa Unimus yang unggul ketika berinteraksi dengan mahasiswa internasional. KKN, menurutnya, bukan sekadar perjalanan akademik, tetapi momentum membangun kompetensi, jejaring, kepedulian sosial, dan kontribusi nyata di tingkat global. Mahasiswa juga mendapatkan pengalaman beragam, mulai dari tugas kelompok, pembuatan produk makanan dan produk berbahan alami, pengenalan budaya, filosofi gambar dan sastra, hingga pembelajaran bahasa. Indonesia turut memperkenalkan kekayaan budaya melalui batik dan wayang, dengan menampilkan tokoh seperti Bima, Dewi Sinta, Arjuna/Janoko, Semar, dan tokoh pewayangan lainnya. Pengalaman yang paling mengesankan adalah ketika mereka mengeksplorasi destinasi wisata Taiwan yang bersih, tertata, dan relatif bebas polusi. Kondisi tersebut memberikan pelajaran penting tentang kedisiplinan, kepedulian lingkungan, serta budaya masyarakat dalam menjaga kebersihan ruang publik. Namun, pengalaman lintas budaya juga memperlihatkan tantangan. Dari sisi kuliner, pilihan makanan yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia masih relatif terbatas, demikian pula pilihan makanan halal. Kondisi ini menjadi pembelajaran penting mengenai kebutuhan masyarakat Muslim Indonesia di luar negeri. Rektor juga mendorong mahasiswa mengembangkan program literasi bagi pekerja migran Indonesia, berkolaborasi dengan PCIM Taiwan, serta membangun jejaring pendidikan dan pengabdian. Kerja sama dengan institusi mitra diharapkan tidak berhenti pada KKN, tetapi berkembang menjadi riset dan publikasi ilmiah bersama. KKN Internasional akhirnya menjadi ruang pembelajaran nyata: berani berinteraksi, mampu beradaptasi, menghargai perbedaan, mengenalkan budaya bangsa, dan hadir memberi manfaat. Dari Negeri Formosa, mahasiswa Unimus belajar bahwa pengalaman global bukan sekadar tentang pergi jauh, tetapi tentang membawa nama baik almamater dan Indonesia, sekaligus pulang dengan wawasan, jejaring, dan semangat untuk terus berkontribusi.
FEHBi Unimus Gelar Capacity Building untuk Penguatan Kapasitas dan Akselerasi Kinerja Menuju Fakultas Berdaya Saing Global

Bandungan, Semarang – Fakultas Ekonomi, Hukum, dan Bisnis (FEHBi) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menyelenggarakan kegiatan Capacity Building pada 21–22 Agustus 2026 di Hotel Wahid Bandungan, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh jajaran pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan di lingkungan FEHBi Unimus. Mengusung tema “Penguatan Kapasitas dan Penyelarasan Visi Misi FEHBi Berlandaskan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan untuk Akselerasi Kinerja Menuju Fakultas Berdaya Saing Global”, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kebersamaan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta menyelaraskan langkah seluruh civitas akademika dalam mendukung pencapaian visi dan misi FEHBi Unimus. Capacity Building dirancang tidak hanya sebagai kegiatan penguatan kapasitas organisasi, tetapi juga sebagai sarana membangun sinergi, komunikasi, dan soliditas di antara seluruh unsur di lingkungan FEHBi Unimus. Melalui kegiatan ini, seluruh peserta diharapkan memiliki semangat dan pemahaman yang sama dalam menghadapi berbagai tantangan serta peluang pengembangan fakultas di masa depan. Rangkaian kegiatan diawali dengan Pengajian dan Doa Bersama sebagai upaya memperkuat nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang menjadi landasan dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian di lingkungan Universitas Muhammadiyah Semarang. Penguatan spiritual dan ideologis tersebut diharapkan dapat menjadi pondasi dalam membangun budaya kerja yang profesional, berintegritas, kolaboratif, dan berorientasi pada kemajuan. Selain kegiatan pengajian dan doa bersama, suasana kebersamaan juga semakin terbangun melalui agenda Malam Keakraban. Kegiatan ini menjadi ruang interaksi yang lebih hangat dan informal bagi pimpinan, dosen, serta tenaga kependidikan FEHBi Unimus. Berbagai aktivitas kebersamaan memberikan kesempatan kepada seluruh peserta untuk mempererat silaturahmi, membangun komunikasi, serta memperkuat rasa kekeluargaan sebagai bagian dari satu keluarga besar FEHBi Unimus. Pada hari berikutnya, kegiatan dilanjutkan dengan Outbound yang dikemas dalam berbagai aktivitas kelompok. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak untuk membangun kerja sama, meningkatkan komunikasi, menumbuhkan kepercayaan, serta mengasah kemampuan dalam menyelesaikan berbagai tantangan secara bersama-sama. Semangat teamwork dan kolaborasi menjadi nilai penting yang diharapkan dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab di lingkungan FEHBi Unimus. Kegiatan Capacity Building ini juga menjadi momentum untuk melakukan penyelarasan visi dan misi, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mengakselerasi pencapaian kinerja fakultas. Seluruh pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi FEHBi menuju fakultas yang adaptif, inovatif, unggul, serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. Dengan semangat kebersamaan yang semakin kuat, FEHBi Unimus optimistis dapat terus melakukan berbagai inovasi dan penguatan di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, tata kelola, kemahasiswaan, serta pengembangan jejaring kerja sama internasional. Melalui kegiatan Capacity Building FEHBi Unimus 2026, diharapkan seluruh peserta semakin solid, memiliki semangat baru, serta bergerak dalam satu visi yang sama. Berlandaskan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, seluruh civitas akademika FEHBi Unimus berkomitmen untuk terus meningkatkan kinerja dan memberikan kontribusi terbaik dalam mewujudkan FEHBi Unimus sebagai fakultas yang berdaya saing global. “Bersama Menguatkan Kapasitas, Menyatukan Visi, dan Mengakselerasi Kinerja Menuju FEHBi Unimus Berdaya Saing Global.”
Rakerta FEHBi Unimus 2026, Akselerasi Transformasi Menuju Fakultas Berdaya Saing Global

Semarang, 21 Agustus 2026 – Fakultas Ekonomi Hukum dan Bisnis (FEHBi) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menyelenggarakan Rapat Kerja Tahunan (Rakerta) Tahun 2026 pada Jumat, 21 Agustus 2026, bertempat di Aula GKB 3 Lantai 1 Unimus. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan (tendik) di lingkungan FEHBi Unimus. Mengusung tema “Akselerasi Transformasi FEHBi Menuju Fakultas Berdaya Saing Global”, Rakerta menjadi momentum strategis untuk menyamakan persepsi, memperkuat sinergi, serta menyusun arah pengembangan FEHBi dalam menghadapi tantangan dan target akademik maupun kelembagaan pada tahun mendatang. Kegiatan diawali dengan Tilawatil Qur’an yang disampaikan oleh Mohammad Ridwan, S.E., M.Ak. Ak. dilanjutkan dengan sambutan Dekan FEHBi Unimus, Dr. Andwiani Sinarasri, S.E., M.Si.Dalam sambutannya, Dekan FEHBi Unimus menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Rakerta Tahun 2026. Bergabungnya Program Studi S1 Hukum Bisnis dan Program Studi Magister Manajemen dinilai semakin memperkuat struktur dan potensi pengembangan FEHBi Unimus. “Dengan bergabungnya S1 Hukum Bisnis dan Magister Manajemen, tentu menambah kekuatan fakultas. Melalui Rakerta ini kita ingin menyamakan persepsi untuk tahun ke depan. Mudah-mudahan melalui kegiatan ini kita memiliki pandangan yang sama dan semangat yang sama untuk memajukan FEHBi Unimus,” ungkap Dr. Andwiani. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Wakil Dekan FEHBi Unimus, Dr. AM. Jumai, S.E., M.M. Selanjutnya, agenda Rakerta diisi dengan paparan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Gugus Penjaminan Mutu (GPM) Dr. Nur Mutaqien Zuhri, S.Pi., M.Si. mengenai baseline capaian kinerja Fakultas dan Program Studi Tahun Akademik 2025/2026. Paparan tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan dalam menetapkan target dan strategi peningkatan kinerja FEHBi pada Tahun Akademik 2026/2027.Dalam pemaparan arah, kebijakan, dan strategi FEHBi Unimus, Dekan menekankan sejumlah target strategis yang akan menjadi fokus pengembangan fakultas. Salah satunya adalah implementasi Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) pada seluruh program studi, meliputi S1 Manajemen, S1 Akuntansi, S1 Agribisnis, S1 Hukum Bisnis, dan Magister Manajemen. Selain penguatan implementasi OBE, FEHBi juga menetapkan sejumlah sasaran strategis, antara lain persiapan akreditasi program studi yang akan dilaksanakan pada Tahun Akademik 2027/2028, peningkatan target publikasi internasional bereputasi Scopus melalui jurnal maupun prosiding, serta penguatan internasionalisasi fakultas dan program studi.Aspek pengembangan mahasiswa juga menjadi perhatian melalui peningkatan target mahasiswa internasional, prestasi mahasiswa, studi lanjut, serta penguatan partisipasi alumni. Indikator partisipatif mencakup keterlibatan alumni, alumni yang berwirausaha, pelaksanaan tracer study, serta pengukuran kepuasan pengguna lulusan. FEHBi Unimus juga menargetkan penguatan keterlibatan industri sebagai bagian dari upaya meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Di sisi lain, pengembangan sustainable campus turut menjadi agenda strategis melalui penguatan green job serta berbagai kegiatan kemahasiswaan seperti Ormawa, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), seminar, dan webinar yang mendukung keberlanjutan. Pada aspek sumber daya manusia, Rakerta juga membahas target pengembangan jabatan fungsional dosen dan tendik, serta peningkatan kapasitas dan kinerja sumber daya manusia sebagai bagian dari penguatan daya saing fakultas. Target jumlah mahasiswa baru juga menjadi salah satu indikator utama yang dibahas dalam Rakerta, sejalan dengan upaya FEHBi Unimus untuk memperluas daya tarik dan meningkatkan kualitas penerimaan mahasiswa baru. Melalui Rakerta Tahun Akademik 2026/2027, FEHBi Unimus berkomitmen memperkuat sinergi seluruh unsur fakultas dalam mewujudkan transformasi kelembagaan yang adaptif, inovatif, berkelanjutan, dan berorientasi pada daya saing global. Kesamaan visi, semangat kolaborasi, serta pencapaian target strategis diharapkan menjadi fondasi dalam membawa FEHBi Unimus semakin unggul dan berkemajuan.
FEHBi UNIMUS dan Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal Perkuat Kerja Sama Pemberdayaan Warga Binaan

Kendal, 20 Agustus 2026 – Fakultas Ekonomi, Hukum, dan Bisnis (FEHBi) Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) melakukan kunjungan ke Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal pada Kamis (20/8/2026). Kunjungan tersebut disambut antusias oleh Kepala Lapas beserta jajaran dan menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pemasyarakatan. Dalam kunjungan tersebut, FEHBi UNIMUS dan Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal juga melaksanakan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai bentuk komitmen untuk mengembangkan kerja sama secara berkelanjutan, khususnya dalam bidang pendidikan, pemberdayaan, pengembangan usaha, serta peningkatan kapasitas warga binaan. Mendorong Produk Warga Binaan Menembus Pasar Salah satu pembahasan utama dalam kunjungan tersebut adalah pengembangan dan pemasaran berbagai produk yang dihasilkan oleh warga binaan. FEHBi UNIMUS melihat adanya potensi besar dari kegiatan produktif yang telah dikembangkan di Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal agar tidak hanya menjadi aktivitas pembinaan, tetapi juga dapat berkembang menjadi produk bernilai ekonomi dan memiliki akses pasar yang lebih luas. Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal memiliki berbagai sektor produktif, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan hingga pengolahan hasil pertanian dan peternakan. Beberapa komoditas yang dikembangkan antara lain jagung, kacang-kacangan, melon, ikan, ayam, kambing, dan sapi. Selain itu, warga binaan juga mendapatkan pembinaan melalui kegiatan budidaya maggot serta produksi pakan dan pupuk secara mandiri. Potensi tersebut menjadi ruang kolaborasi yang strategis bagi FEHBi UNIMUS, khususnya dalam memberikan pendampingan dari sisi manajemen usaha, pemasaran, branding, pengembangan produk, hingga penguatan ekosistem bisnis. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu produk hasil pembinaan warga binaan memiliki nilai tambah, daya saing, dan peluang pemasaran yang lebih luas, sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan secara berkelanjutan. Penguatan Pembinaan dan Kesiapan Warga Binaan Selain membahas aspek ekonomi, kunjungan juga menjadi kesempatan untuk memahami lebih jauh proses pembinaan warga binaan, termasuk pembinaan rohani serta berbagai tantangan yang dihadapi warga binaan setelah menyelesaikan masa pembinaan dan kembali ke masyarakat. Persiapan untuk kembali ke masyarakat menjadi bagian penting dalam proses reintegrasi sosial. Karena itu, penguatan keterampilan, kemandirian ekonomi, karakter, dan kesiapan mental menjadi aspek yang saling berkaitan. Melalui kerja sama antara Lapas dan perguruan tinggi, pembinaan diharapkan tidak berhenti pada pemberian keterampilan, tetapi juga dapat diarahkan pada pengembangan kapasitas yang mendukung warga binaan agar lebih siap membangun kehidupan yang mandiri setelah keluar dari Lapas. Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti magang mahasiswa, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pendampingan usaha, pengembangan produk, pemasaran digital, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pengembangan model bisnis berbasis potensi warga binaan. Khususnya melalui Program Studi Agribisnis, potensi sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan pengolahan hasil yang dikembangkan di Lapas dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengabdian yang aplikatif bagi mahasiswa. Kunjungan FEHBi UNIMUS ke Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal menjadi langkah awal untuk membangun sinergi yang lebih luas antara perguruan tinggi dan lembaga.
Masjid Muhammadiyah Berkumandang Al-Barzanji: Toleransi, Dakwah Kultural, atau Keluar dari Rambu Tarjih?

Oleh : AM. Juma’i Lantunan Al-Barzanji atau Diba’ yang terdengar dari sebuah masjid Muhammadiyah tentu menjadi pemandangan yang menarik sekaligus mengundang pertanyaan. Apakah hal itu merupakan bentuk toleransi, pemaksaan keadaan, atau justru kelengahan dalam menjaga manhaj Persyarikatan? Majelis Tarjih Muhammadiyah memandang bahwa bershalawat kepada Nabi Muhammad saw merupakan ibadah yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, Al-Barzanji sebagai karya yang lahir jauh setelah masa Rasulullah saw bukanlah bacaan yang dikenal pada masa sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Dalam kajian Tarjih, terdapat pula sejumlah ungkapan di dalamnya yang perlu dikritisi karena berpotensi mengandung pujian berlebihan dan pemahaman seperti konsep “Nur Muhammad” yang tidak memiliki dasar nash yang kuat. Karena itu, persoalannya bukan sekadar “boleh atau tidak boleh”, melainkan bagaimana warga Muhammadiyah menjaga pedoman tarjih sekaligus membangun dakwah yang bijaksana. Masjid Muhammadiyah di Tengah Kultur Kampung Di banyak kampung, masjid Muhammadiyah berdiri di tengah masyarakat yang telah lama memiliki tradisi tahlilan, yasinan, manaqiban, berjanjen, Diba’an, dan berbagai bentuk kegiatan keagamaan lokal. Masyarakat tersebut tidak selalu memahami perbedaan manhaj antara Muhammadiyah dan kelompok keagamaan lainnya. Mereka mungkin datang bukan karena telah memahami tarjih, tetapi karena merasa nyaman, ingin belajar agama, atau memiliki ikatan sosial dengan jamaah. Dalam kondisi seperti ini, pendekatan dakwah yang terlalu keras justru dapat membuat mereka menjauh. Dakwah kultural membutuhkan hikmah, keteladanan, dialog dan proses. Jangan menjadikan perbedaan praktik ibadah sebagai tembok sosial. Jelaskan secara perlahan mengapa Muhammadiyah memilih suatu bentuk ibadah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, bukan dengan mengatakan bahwa masyarakat selama ini “salah” atau “tidak memahami agama”. Toleransi Tidak Berarti Kehilangan Manhaj Toleransi berarti menghormati manusia dan menjaga ukhuwah, bukan berarti seluruh praktik harus diakomodasi di dalam masjid Muhammadiyah. Masjid memiliki identitas, tata kelola, dan pedoman ibadah. Karena itu, budaya lokal dapat diapresiasi selama tidak bertentangan dengan prinsip agama. Namun, dalam persoalan ibadah mahdhah, rambu-rambu tarjih tetap menjadi pedoman. Inilah keseimbangan antara dakwah kultural dan keteguhan manhaj. Masyarakat awam tidak harus langsung diarahkan untuk meninggalkan seluruh tradisi. Mereka dapat diperkenalkan secara bertahap kepada shalawat yang bersumber dari hadis, kajian sirah Nabi, pembacaan Al-Qur’an, pengajian keluarga, kegiatan sosial, santunan, pemberdayaan ekonomi, dan berbagai aktivitas yang memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw. Jika mereka datang melalui pintu budaya, sambutlah dengan keramahan. Setelah itu, antarkan perlahan menuju pemahaman agama yang lebih mendalam. Maulid sebagai Momentum Dakwah Muhammadiyah tidak menemukan dalil khusus yang secara eksplisit memerintahkan ataupun melarang peringatan Maulid Nabi. Karena itu, persoalan Maulid berada dalam ruang ijtihadiyah. Peringatan dapat menjadi sarana dakwah selama isinya membawa kemaslahatan, meningkatkan iman dan takwa, serta menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw tanpa syirik, khurafat, bid’ah, dan pujian yang berlebihan. Maka, masjid Muhammadiyah dapat menghadirkan semangat Maulid dengan bentuk yang sesuai manhaj: kajian sirah, membaca Al-Qur’an, bershalawat dengan lafaz yang memiliki dasar, tausiyah akhlak, santunan sosial, pelayanan masyarakat, dan gerakan ekonomi umat. Dengan demikian, dakwah tidak berhenti pada perdebatan “Barzanji atau bukan Barzanji”, tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih penting: apakah kecintaan kepada Nabi telah melahirkan masyarakat yang jujur, amanah, berakhlak, peduli dan bermanfaat? Perlahan Mengakomodasi atau Mengarahkan? Dakwah kultural bukan berarti Muhammadiyah harus mengakomodasi semua budaya. Yang lebih tepat adalah menghargai budayanya, memahami masyarakatnya, tetapi tetap membimbing praktik keagamaannya. Prinsipnya sederhana: jangan memutus hubungan sosial hanya karena perbedaan tradisi, tetapi jangan pula mengorbankan prinsip tarjih demi menjaga popularitas. Masjid Muhammadiyah harus menjadi rumah yang ramah bagi masyarakat kampung. Orang yang baru mengenal Muhammadiyah jangan langsung dihadapkan pada daftar “ini salah, itu bid’ah”. Mereka perlu terlebih dahulu merasakan bahwa Muhammadiyah menghadirkan Islam yang santun, mencerdaskan, membebaskan, memberdayakan dan memakmurkan. Pada akhirnya, keberhasilan dakwah bukan diukur dari seberapa cepat tradisi lama dihilangkan, tetapi dari seberapa berhasil masyarakat memahami Islam dengan kesadaran sendiri. Muhammadiyah tidak perlu takut terhadap budaya lokal, tetapi juga tidak boleh kehilangan manhaj. Dakwah kultural adalah seni merawat manusia sambil membimbingnya menuju pemahaman agama yang lebih murni, rasional, berkemajuan dan berlandaskan Al-Qur’an serta Sunnah. Cinta kepada Nabi Muhammad saw bukan hanya melalui suara yang merdu ketika bershalawat, tetapi melalui kesetiaan mengikuti sunnah, akhlak, keadilan, amanah, kasih sayang dan perjuangan beliau. Di situlah masjid Muhammadiyah dapat menjadi pusat dakwah yang teduh: teguh dalam prinsip, lentur dalam pendekatan, dan luas dalam persaudaraan. *AM Jumai Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah
Peringati HUT ke-81 RI, Unimus Ajak Civitas Akademika Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu, Karya, dan Pengabdian; FEHBi Raih Berbagai Penghargaan dan Prestasi

Semarang – Civitas Akademika Fakultas Ekonomi, Hukum, dan Bisnis (FEHBi) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) turut serta dalam Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang dilaksanakan pada Senin, 17 Agustus 2026, di halaman Rektorat Unimus. Upacara peringatan kemerdekaan tersebut berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat nasionalisme. Mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, seluruh civitas akademika Unimus bersama-sama mengenang perjuangan para pahlawan sekaligus meneguhkan komitmen untuk terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, karya, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam amanatnya, Rektor Unimus Prof. Dr. H. Masrukhi, M.Pd. mengajak seluruh civitas akademika untuk mengisi kemerdekaan dengan kontribusi nyata. Semangat perjuangan para pendahulu, menurutnya, harus terus diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan, penciptaan karya dan inovasi, serta pengabdian yang memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Semangat kemerdekaan tersebut juga diwujudkan melalui pemberian apresiasi kepada dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta berbagai unsur civitas akademika yang telah menunjukkan dedikasi dan prestasi membanggakan. Dalam kesempatan tersebut, FEHBi Unimus turut mencatatkan berbagai capaian dan prestasi. Sejumlah penghargaan yang berhasil diraih menjadi bukti komitmen seluruh sivitas akademika FEHBi dalam meningkatkan mutu, produktivitas, serta prestasi di lingkungan Universitas Muhammadiyah Semarang. Adapun berbagai penghargaan dan prestasi yang diraih civitas akademika FEHBi Unimus di antaranya: Berbagai penghargaan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar FEHBi Unimus. Capaian ini tidak hanya mencerminkan prestasi individu maupun unit kerja, tetapi juga menjadi hasil dari semangat kebersamaan, kerja keras, dedikasi, dan komitmen seluruh civitas akademika dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Partisipasi civitas akademika FEHBi Unimus dalam upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia sekaligus raihan berbagai prestasi menjadi momentum untuk terus memperkuat semangat persatuan dan meningkatkan kontribusi bagi institusi, masyarakat, dan bangsa. Dengan semangat “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, FEHBi Unimus berkomitmen untuk terus melangkah maju, menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, memperkuat budaya mutu, meningkatkan prestasi, serta menghadirkan karya dan pengabdian yang memberikan dampak nyata. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81!Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!Mari Isi Kemerdekaan dengan Ilmu, Karya, dan Pengabdian
Transformasi Ekonomi, Penguatan Generasi Muda, dan Pemerintahan Bersih Menuju Indonesia Emas 2045

Oleh: Dr. H. KRAT. AM. Jumai, SE., MM Indonesia sedang berada pada persimpangan penting menuju Indonesia Emas 2045. Dua puluh tahun ke depan bukan sekadar persoalan mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi menentukan apakah bonus demografi akan menjadi kekuatan pembangunan atau justru berubah menjadi beban sosial. Ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang kuat. World Bank mencatat perekonomian Indonesia memasuki 2026 dengan momentum pertumbuhan yang kuat, sementara pertumbuhan ekonomi pada semester pertama 2025 berada sekitar 5 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi semata tidak cukup. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana pertumbuhan tersebut menghasilkan pekerjaan yang layak, meningkatkan produktivitas, mengurangi kemiskinan, memperluas investasi dan sekaligus memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat. Pengangguran Muda: Ancaman yang Tidak Boleh Diremehkan Salah satu pekerjaan rumah terbesar Indonesia adalah persoalan ketenagakerjaan generasi muda. Data BPS menunjukkan bahwa pada 2025 tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 20–24 tahun mencapai 14,35 persen, sedangkan kelompok usia 15–19 tahun mencapai 23,34 persen.Persoalannya bahkan lebih luas daripada sekadar pengangguran. BPS mencatat tingkat NEET (Not in Employment, Education or Training) pemuda Indonesia pada Agustus 2024 mencapai 20,31 persen atau sekitar 9 juta dari 44 juta anak muda. Mereka tidak sedang bekerja, tidak bersekolah dan tidak mengikuti pelatihan. Angka tersebut harus dibaca sebagai alarm pembangunan manusia. Anak muda yang tidak memperoleh pekerjaan, pendidikan, keterampilan dan ruang aktualisasi berpotensi mengalami keterasingan sosial. Dalam kondisi tertentu, kekosongan aktivitas produktif dapat beririsan dengan meningkatnya perilaku berisiko, kekerasan kelompok, gangsterisme, tawuran, balap liar, penyalahgunaan narkoba dan berbagai bentuk kejahatan jalanan.Karena itu, pendekatan terhadap persoalan generasi muda tidak boleh hanya bersifat represif. Anak muda jangan hanya ditertibkan setelah melakukan kesalahan; negara harus hadir memberikan kesempatan sebelum mereka terjerumus ke dalam kesalahan.Kebijakan kepemudaan harus bergerak dari sekadar problem solving menjadi opportunity creation: menciptakan pekerjaan, kewirausahaan, pendidikan vokasi, pelatihan digital, olahraga, ruang kreativitas, inkubasi bisnis dan komunitas produktif. Tiga Mesin Ekonomi Masa Depan Untuk menjawab tantangan tersebut, Indonesia perlu memperkuat sedikitnya tiga ekosistem ekonomi masa depan: green economy, wellness economy, dan digital economy. Indonesia harus naik kelas dari digital consumer menjadi digital producer. Anak muda harus diarahkan menjadi pencipta aplikasi, pengembang teknologi, pelaku e-commerce, kreator digital, pengembang kecerdasan buatan, pekerja remote, konsultan digital, pelaku UMKM berbasis teknologi dan pengusaha rintisan.Digitalisasi juga harus masuk ke desa, pasar tradisional, UMKM, koperasi, pendidikan, pertanian, kesehatan dan pemerintahan. Investasi Membutuhkan Pemerintahan yang Bersih.Tidak ada ekonomi yang kuat tanpa tata kelola yang kuat. Investasi membutuhkan kepastian hukum, transparansi, stabilitas, persaingan usaha yang sehat, birokrasi yang efektif dan pemerintahan yang bebas dari korupsi.Transparency International dalam Corruption Perceptions Index 2025 menempatkan korupsi sebagai persoalan serius di kawasan Asia-Pasifik. Indeks tersebut mengukur persepsi korupsi sektor publik pada 182 negara dan wilayah. Dalam konteks Indonesia, persoalan korupsi tidak boleh dipandang semata sebagai persoalan hukum. Korupsi adalah persoalan ekonomi dan pembangunan.Korupsi dapat meningkatkan biaya transaksi, merusak persaingan, mengurangi kualitas pelayanan publik, menggerus kepercayaan masyarakat dan membuat investasi menjadi tidak efisien. Karena itu, agenda Indonesia Emas harus disertai gerakan besar reformasi tata kelola.Digitalisasi pemerintahan harus diarahkan untuk memperkuat transparansi. Pengadaan barang dan jasa harus semakin terbuka. Konflik kepentingan harus dicegah. Anggaran publik harus dapat dilacak manfaatnya. Setiap program pemerintah harus memiliki indikator kinerja dan evaluasi yang jelas. Setiap rupiah uang negara harus kembali menjadi manfaat bagi rakyat. Kemiskinan Tidak Cukup Diatasi dengan Bantuan Indonesia telah mengalami penurunan angka kemiskinan. BPS mencatat tingkat kemiskinan pada September 2025 sebesar 8,25 persen atau sekitar 23,36 juta orang. Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan masih merupakan agenda besar pembangunan. Kemiskinan tidak boleh ditangani hanya dengan pendekatan bantuan sosial. Bantuan diperlukan untuk melindungi masyarakat rentan, tetapi strategi jangka panjang harus mengubah masyarakat dari penerima bantuan menjadi pelaku ekonomi. Masyarakat miskin harus memperoleh akses terhadap pendidikan, keterampilan, modal, teknologi, pasar, pekerjaan dan kepemilikan aset produktif. Di sinilah green economy, wellness economy dan digital economy dapat dipertemukan dengan agenda pengentasan kemiskinan. Misalnya, masyarakat dapat dilatih mengelola sampah menjadi produk ekonomi sirkular; pemuda diberi pelatihan digital untuk memasarkan produk UMKM; desa dikembangkan menjadi destinasi wellness tourism; petani didorong menggunakan teknologi digital; dan kelompok masyarakat miskin diberikan akses pada rantai pasok industri. Dengan demikian, pengentasan kemiskinan tidak berhenti pada memberi ikan, tetapi membangun kemampuan masyarakat untuk memproduksi, mengelola dan mengembangkan ekonominya sendiri. Dari Bonus Demografi Menjadi Bonus Produktivitas Indonesia Emas 2045 harus dibangun melalui perubahan paradigma. Kita tidak cukup berbicara tentang banyaknya penduduk usia produktif. Yang lebih penting adalah produktivitas penduduk usia produktif tersebut. Bonus demografi hanya menjadi bonus apabila generasi muda memperoleh pendidikan berkualitas, kesehatan yang baik, keterampilan yang relevan, pekerjaan yang layak dan lingkungan sosial yang mendukung. Sebaliknya, apabila jutaan anak muda tidak memperoleh pendidikan, pekerjaan atau pelatihan, bonus demografi dapat berubah menjadi demographic burden. Karena itu, agenda pembangunan Indonesia harus mengintegrasikan ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan, keamanan sosial, moralitas dan tata kelola pemerintahan. Membangun Komitmen Nasional Indonesia membutuhkan sebuah komitmen bersama menuju 2045. Penutup: Indonesia Emas Harus Menghasilkan Generasi Emas Indonesia Emas 2045 tidak boleh hanya menjadi slogan pembangunan. Ia harus menjadi kontrak sosial antara negara dan rakyat. Kita ingin Indonesia yang ekonominya tumbuh, tetapi sekaligus menciptakan pekerjaan. Kita ingin investasi masuk, tetapi tidak merusak lingkungan. Kita ingin digitalisasi berkembang, tetapi tidak meninggalkan kelompok masyarakat yang lemah. Kita ingin pembangunan maju, tetapi korupsi dan penyimpangan harus semakin sempit ruangnya. Dan yang paling penting, kita ingin generasi muda Indonesia memiliki masa depan. Jangan biarkan anak muda yang seharusnya menjadi kekuatan pembangunan justru kehilangan arah karena tidak mendapatkan pekerjaan, pendidikan, ruang kreativitas dan kesempatan untuk berkembang. Green economy, wellness economy dan digital economy harus diposisikan sebagai tiga mesin transformasi ekonomi. Ketiganya harus disatukan dengan pemerintahan yang bersih, investasi berkualitas, penguatan sumber daya manusia dan komitmen pengentasan kemiskinan. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan Indonesia Emas bukan hanya seberapa tinggi pertumbuhan ekonominya, tetapi seberapa banyak rakyat yang hidup sejahtera, bekerja secara produktif, mendapatkan keadilan, hidup dalam lingkungan yang sehat, serta memiliki masa depan yang bermartabat. Indonesia Emas 2045 harus menjadi Indonesia yang maju ekonominya, bersih pemerintahannya, sehat masyarakatnya, produktif generasinya, lestari lingkungannya dan adil kesejahteraannya. Oleh:AM Jumai Dosen Fakultas Ekonomi Hukum dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Semarang/Ketua LDK PWM Jawa Tengah
Sharing Session: Pengenalan Sistem OBE melalui Sipinter di lingkungan FEHBi Unimus

Semarang, 11 Agustus 2026 – Fakultas Ekonomi Hukum dan Bisnis (FEHBi) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menyelenggarakan Sharing Session: Pengenalan Sistem OBE di sipinter.unimus.ac.id pada Selasa, 11 Agustus 2026. Kegiatan tersebut bertempat di Ruang 720.2, Gedung Kuliah Bersama (GKB) 3 Unimus. Kegiatan menghadirkan Heri Dwi Santoso, S.S., M.Hum. sebagai narasumber. Sharing session ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pengenalan mengenai sistem Outcome-Based Education (OBE) yang terintegrasi melalui platform sipinter.unimus.ac.id, sekaligus mendukung peningkatan kualitas implementasi pembelajaran berbasis capaian di lingkungan FEHBi Unimus. Kegiatan dihadiri oleh Dekan FEHBi Unimus, Wakil Dekan, para Ketua Program Studi (Kaprodi) dan Sekretaris Program Studi, Gugus Penjaminan Mutu (GPM), serta Satuan Penjaminan Mutu (SPM) di lingkungan FEHBi Unimus. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai pemanfaatan sistem serta tahapan implementasi OBE melalui sipinter.unimus.ac.id. Sharing session juga menjadi ruang diskusi bagi pengelola program studi dan tim penjaminan mutu untuk menyamakan pemahaman terkait penerapan OBE dalam mendukung proses pembelajaran dan penjaminan mutu akademik. Dekan FEHBi Unimus, Dr. Andwiani Sinarasri, S.E., M.Si., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia berharap pengenalan dan pemanfaatan sistem OBE dapat memberikan dukungan nyata terhadap kebutuhan akademik dan penjaminan mutu di lingkungan FEHBi Unimus. “Semoga nanti yang dihasilkan dapat ter-support dengan baik, sehingga sistem ini benar-benar dapat membantu program studi dalam mengimplementasikan OBE dan mendukung peningkatan mutu akademik di FEHBi Unimus,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, FEHBi Unimus berkomitmen untuk terus memperkuat implementasi Outcome-Based Education (OBE) secara sistematis dan berkelanjutan. Pemanfaatan sistem digital diharapkan dapat mendukung pengelolaan pembelajaran, dokumentasi capaian pembelajaran, serta proses evaluasi dan penjaminan mutu akademik secara lebih efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Tiga Tokoh UNIMUS Raih Gelar Pendekar Kehormatan Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Semarang, 08 Agustus 2026 — Kabar membanggakan datang dari Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS). Tiga tokoh UNIMUS menerima Anugerah Gelar Pendekar Kehormatan Tapak Suci Putera Muhammadiyah dalam rangkaian Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Anugerah tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi atas dedikasi serta kontribusi dalam mendukung dakwah, persyarikatan, pendidikan, dan pengembangan Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Adapun tiga tokoh UNIMUS yang menerima Gelar Pendekar Kehormatan tersebut adalah: Penganugerahan ini menjadi kebanggaan bagi keluarga besar UNIMUS sekaligus memperkuat semangat sinergi antara pendidikan tinggi, Persyarikatan Muhammadiyah, dan organisasi otonom Muhammadiyah dalam membangun generasi yang berkarakter, berintegritas, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Keluarga besar Fakultas Ekonomi, Hukum dan Bisnis (FEHBi) UNIMUS menyampaikan selamat dan berkah atas penganugerahan Gelar Pendekar Kehormatan tersebut. Semoga penghargaan ini menjadi amanah untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi Muhammadiyah, masyarakat, bangsa, dan negara. Selamat dan berkah atas Anugerah Gelar Pendekar Kehormatan Tapak Suci Putera Muhammadiyah.